Saturday, 7 May 2011
Sunday, 20 March 2011
Efek Rumah Kaca

Ini sekilas mengenai efek rumah kaca... ini dia cekidot..!!!
Efek Rumah Kaca adalah grup musik indie yang berasal dari Jakarta. Terdiri dari Cholil Mahmud (vokal, gitar), Adrian Yunan Faisal (vokal latar, bass), Akbar Bagus Sudibyo (drum, vokal latar). Mereka dikenal oleh para pecinta musik di Indonesia lagu-lagu mereka yang banyak menyentuh dan memotret keadaan sosial masyarakat di sekitar mereka pada semua tingkatan. Sampai sekarang, band ini sudah mengeluarkan dua buah album studio, yaitu Efek Rumah Kaca pada tahun 2007 dan Kamar Gelap pada tahun 2008.
atau selengkapnya bisa kunjungi saja di sini....
http://www.myspace.com/efekrumahkaca
http://efekrumahkaca.multiply.com/
pokoknya buat efek rumah kaca mantab dah,,,, !!!! keren....:)
Saturday, 5 March 2011
I love "Babaaak"....!!!

Ayah, seorang lelaki yang menawan, dalam hidupku.
Teringat waktu silam, ketika saat bersamamu. Waktu yang indah, bersama ayah, kelembutan dan kasih sayangnya masih terasa hingga kini, hingga sang waktu bawa ayah kembali, dan takkan terhilang bersama hembusan angin hidup. Masih ku ingat waktu itu, dengan selendang “jarek”(bahasa jawa) batik yang digunakan untuk mengendong aku, ketika kami jalan-jalan. Bersepada “ontel” kesayangan beliau, keliling desa, aku duduk dibelakan, selendang itu digunakan untuk mengikat kakiku pada tuas sepeda Ontel-nya, supaya kakiku tidak terjerat jari-jari ban. Kupeluk earat pinggang ayah, kurasakan kelembutan dan kasih sayang beliau yang begitu mendalam menusuk urat nadi ku.
Begitu indah pada masa tu, seraya ingin mengulangi dan menghadirken lagi. Kali ini aku ingin "memboncengkan" beliau dengan kasih sayang dan kelembutan yang pernah beliau berikan kepadaku, meski kadarnya tak sepadan dengan yang beliau beriken pada ku waktu itu.
Kenangan waktu itu, membekas di zona memory yang sewaktu-waktu dapat dihadirken kembali. Semoga kasih sayang beliau yang dicurahken kepada anak-anaknya di balas dengan kasih sayang Allah SWT dan mendapatken keridhoan dari Allah SWT, dan semoga keberkahan senantiasa menaunginya. Amin
untuk ayah tercinta
-anakmu-
1km-pinggirKali*Krasak, 5 Maret 2011
Saturday, 26 February 2011
Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional
A. Sejarah Gerakan
Perang Solferino
Pada tanggal 24 Juni 1859 di Solferino, sebuah kota kecil yang terletak di daratan rendah Propinsi Lambordi, sebelah utara Italia, berlangsung pertempuran sengit antara prajurit Perancis dan Austria. Pertempuran yang berlangsung sekitar 16 jam dan melibatkan 320.000 orang prajurit itu, menelan puluhan ribu korban tewas dan luka-luka. Sekitar 40 ribu orang meninggal dalam pertempuran.
Banyaknya prajurit yang menjadi korban, dimana pertempuran berlangsung antar kelompok yang saling berhadapan, memang merupakan karakteristik perang yang berlangsung pada jaman itu. Tak ubahnya seperti pembantaian massal yang menghabisi ribuan orang pada satu waktu. Terlebih lagi, komandan militer tidak memperhatikan kepentingan orang yang terluka untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan. Mereka hanya dianggap sebagai ‘makanan meriam’. Ribuan mayat tumpang tindih dengan mereka yang terluka tanpa pertolongan. Jumlah ahli bedah pun sangat tidak mencukupi. Saat itu, hanya ada empat orang dokter hewan yang merawat seribu kuda serta seorang dokter untuk seribu orang. Pertempuran tersebut pada akhirnya dimenangkan oleh Perancis.
Akibat perang dengan pemandangannya yang sangat mengerikan itu, menggugah Henry Dunant, seorang pengusaha berkebangsaan Swiss (1828 – 1910) yang kebetulan lewat dalam perjalanannya untuk menemui Kaisar Napoleon III guna keperluan bisnis. Namun menyaksikan pemandangan yang sangat mengerikan akibat pertempuran, membuat kesedihannya muncul dan terlupa akan tujuannya bertemu dengan kaisar. Dia mengumpulkan orang-orang dari desa-desa sekitarnya, dan tinggal di sana selama tiga hari untuk dengan sungguh-sungguh menghabiskan waktunya untuk merawat orang yang terluka.
Ribuan orang yang terluka tanpa perawatan dan dibiarkan mati di tempat karena pelayanan medis yang tidak mencukupi jumlahnya dan tidak memadai dalam tugas/keterampilan, membuatnya sangat tergugah. Kata-kata bijaknya yang diungkapkan saat itu, Siamo tutti fratelli (Kita semua saudara), membuka hati para sukarelawan untuk melayani kawan maupun lawan tanpa membedakannya.
Komite Internasional
Sekembalinya Dunant ke Swiss, membuatnya terus dihantui oleh mimpi buruk yang disaksikannya di Solferino. Untuk menghilangkan bayangan buruk dalam pikirannya dan untuk menarik perhatian dunia akan kenyataan kejamnya perang, ditulisnya sebuah buku dan diterbitkannya dengan biaya sendiri pada bulan November 1862. Buku itu diberi judul “Kenangan dari Solferino” (Un Souvenir De Solferino).
Buku itu mengandung dua gagasan penting yaitu:
> Perlunya mendirikan perhimpunan bantuan di setiap negara yang terdiri dari sukarelawan untuk merawat orang yang terluka pada waktu perang.
> Perlunya kesepakatan internasional guna melindungi prajurit yang terluka dalam medan perang dan orang-orang yang merawatnya serta memberikan status netral kepada mereka.
Selanjutnya Dunant mengirimkan buku itu kepada keluarga-keluarga terkemuka di Eropa dan juga para pemimpin militer, politikus, dermawan dan teman-temannya. Usaha itu segera membuahkan hasil yang tidak terduga. Dunant diundang kemana-mana dan dipuji dimana-mana. Banyak orang yang tertarik dengan ide Henry Dunant, termasuk Gustave Moynier, seorang pengacara dan juga ketua dari The Geneva Public Welfare Society (GPWS). Moynier pun mengajak Henry Dunant untuk mengemukakan idenya dalam pertemuan GPWS yang berlangsung pada 9 Februari 1863 di Jenewa. ternyata, 160 dari 180 orang anggota GPWS mendukung ide Dunant. Pada saat itu juga ditunjuklah empat orang anggota GPWS dan dibentuklah KOMITE LIMA untuk memperjuangkan terwujudnya ide Henry Dunant. Mereka adalah :
Gustave Moynier
dr. Louis Appia
dr. Theodore Maunoir
Jenderal Guillame-Hendri Dufour
Adapun Henry Dunant, walaupun bukan anggota GPWS, namun dalam komite tersebut ditunjuk menjadi sekretaris. Pada tanggal 17 Februari 1863, Komite Lima berganti nama menjadi Komite Tetap Internasional untuk Pertolongan Prajurit yang Terluka sekaligus mengangkat ketua baru yaitu jenderal Guillame – Henri Dufour.
Pada bulan Oktober 1863, Komite Tetap Internasional untuk Pertolongan Prajurit yang Terluka, atas bantuan Pemerintah Swiss, berhasil melangsungkan Konferensi Internasional pertama di Jenewa yang dihadiri perwakilan dari 16 negara (Austria, Baden, Beierem, Belanda, Heseen-Darmstadt, Inggris, Italia, Norwegia, Prusia, Perancis, Spanyol, Saksen, Swedia, Swiss, Hannover,dan Hutenberg). Beberapa Negara tersebut saat ini sudah menjadi Negara bagian dari Jerman.
Adapun hasil dari konferensi tersebut, adalah disepakatinya satu konvensi yang terdiri dari sepuluh pasal, beberapa diantaranya merupakan pasal krusial yaitu digantinya nama Komite Tetap Internasional untuk Menolong Prajurit yang Terluka menjadi KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAH atau ICRC (International Committee of the Red Cross) dan ditetapkannya tanda khusus bagi sukarelawan yang memberi pertolongan prajurit yang luka di medan pertempuran yaitu Palang Merah diatas dasar putih.
Pada akhir konferensi internasional 1863, gagasan pertama Dunant – untuk membentuk perhimpunan para sukarelawan di setiap negara pun menjadi kenyataan Beberapa perhimpunan serupa dibentuk beberapa bulan kemudian setelah konferensi internasional di Wurttemburg, Grand Duchy of Oldenburg, Belgia dan Prusia. Perhimpunan lain mengikuti seperti di Denmark, Perancis, Italy, Mecklenburgh-schwerin, Spain, Hamburg dan Hesse. Pada waktu itu mereka disebut sebagai Komite Nasional atau Perhimpunan Pertolongan.
Selanjutnya, dengan dukungan pemerintah Swiss kembali, diadakanlah Konferensi Diplomatik yang dilaksanakan di Jenewa pada tanggal 8 sampai 28 Augustus 1864. 16 negara dan empat institusi donor mengirimkan wakilnya. Sebagai bahan diskusi, sebuah rancangan konvensi disiapkan oleh Komite Internasional. Rancangan tersebut dinamakan “Konvensi Jenewa untuk memperbaiki kondisi tentara yang terluka di medan perang” dan disetujui pada tanggal 22 Agustus 1864. Lahirlah HPI modern. Konvensi itu mewujudkan ide Dunant yang kedua, yaitu untuk memperbaiki situasi prajurit yang terluka pada saat peperangan dan membuat negara-negara memberikan status netral pada prajurit yang terluka dan orang-orang yang merawatnya yaitu personil kesehatan.
B. Komponen Gerakan
Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
Pada akhir perang dunia pertama sebagian besar daerah di Eropa sangat kacau, ekonomi rusak, populasi berkurang drastis karena epidemi, sejumlah besar pengungsi yang miskin dan orang yang tidak mempunyai kewarganegaraan memenuhi benua itu. Perang tersebut sangat jelas menunjukkan perlunya kerjasama yang kuat antara perhimpunan Palang Merah, yang karena aktivitasnya dalam masa perang dapat menarik ribuan sukarelawan. Henry P. Davison, Presiden Komite Perang Palang Merah Amerika, mengusulkan pada konferensi internasional medis (April 1919, Cannes, Perancis) ”untuk memfederasikan perhimpunan palang merah dari berbagai negara menjadi sebuah organisasi setara dengan liga bangsa-bangsa, dalam hal peperangan dunia untuk memperbaiki kesehatan, mencegah penyakit dan mengurangi penderitaan.”
Liga Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah1 kemudian secara formal terbentuk dengan markas besarnya di Paris oleh Perhimpunan Palang Merah dari Perancis, Inggris, Itali, Jepang, Amerika Serikat pada tanggal 5 Mei 1919 dengan tujuan utama memperbaiki kesehatan pada negara-negara yang telah sangat menderita setelah perang. Liga itu juga bertujuan untuk ‘memperkuat dan menyatukan aktivitas kesehatan yang sudah ada dalam Perhimpunan Palang Merah dan untuk mempromosikan pembentukan perhimpunan baru.’ Bagian penting dari kerja Federasi adalah menyediakan dan mengkoordinasi bantuan bagi korban bencana alam dan epidemi. Sejak 1939 markas permanennya ada di Jenewa. Pada tahun 1991, keputusan diambil untuk merubah nama Liga Perhimpunan Palang Merah menjadi Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau IFRC (International Federation of the Red Cross and Red Crescent Societis).
Selanjutnya, baik IFRC, ICRC dan Perhimpunan Nasional, merupakan bagian dari komponen Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah atau biasa disebut dengan ”Gerakan” saja. Komponen Gerakan dalam menjalankan tugasnya sesuai Prinsip Dasar dan mandat masing-masing sebagaimana yang disebut dalam Statuta Gerakan.
International Committee of the Red Cross
Sebagai sebuah lembaga swasta dan mandiri, ICRC bertindak sebagai penengah yang netral antara dua negara yang berperang atau bermusuhan dalam konflik bersenjata Internasional, konflik bersenjata non-Internasional dan pada kasus-kasus kekerasan internasional. Selain itu, juga berusaha untuk menjamin bahwa korban kekerasan di atas, baik penduduk sipil maupun militer serta menerima perlindungan dan pertolongan.
Pada kasus-kasus konflik bersenjata Internasional maupun non-Internasional, aksi kemanusiaan ICRC didasarkan pada Konvensi dan protokol-protokolnya. Ini alasan mengapa kita mengatakan bahwa sebuah mandat khusus telah dipercayakan kepada ICRC oleh komunitas negara-negara peserta konvensi tersebut. Pada kasus-kasus kekerasan internal, ICRC bertindak berdasar pada hak inisiatif kemanusiaan seperti tercantum dalam statuta gerakan.
ICRC adalah pelindung prinsip-prinsip dasar gerakan dan pengambil keputusan atas pengakuan perhimpunan-perhimpunan nasional, dimana dengan itu mereka menjadi bagian resmi dari gerakan. ICRC bekerja untuk mengembangkan HPI, menjelaskan, mendiseminasikan dan mempromosikan Konvensi Jenewa. ICRC juga melaksanakan kewajiban yang ditimpakan padanya berdasarkan Konvensi-konvensi tersebut dan memastikan bahwa konvensi-konvensi itu dilaksanakan dan mengembangkannya apabila perlu.
Perhimpunan Nasional
Perhimpunan Nasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah adalah organisasi kemanusiaan yang ada di setiap negara anggota penandatangan Konvensi Jenewa. Tidak ada negara yang dapat memiliki lebih dari satu Perhimpunan Nasional. Sebelum sebuah perhimpunan baru disetujui oleh ICRC dan menjadi anggota Federasi, beberapa syarat ketat harus dipenuhi. Menurut statuta gerakan Perhimpunan Nasional yang baru didirikan harus disetujui oleh ICRC. Untuk dapat memperoleh persetujuan dari ICRC, sebuah Perhimpunan Nasional harus memenuhi 10 syarat yaitu:
Didirikan disuatu Negara Peserta Konvensi Jenewa 1949
Satu-satunya Perhimpunan PM/BSM Nasional di Negaranya
Diakui oleh Pemerintah Negaranya
Memakai nama dan lambang Palang Merah atau Bulan Sabit Merah
Bersifat mandiri
Memperluas kegiatan di seluruh wilayah
Terorganisir dalam menjalankan tugasnya dan dilaksanakan diseluruh wilayah negaranya
Menerima anggota tanpa membedakan latar belakang
Menyetujui statuta Gerakan
Menghormati Prinsip-prinsip Dasar Gerakan dan menjalankan tugasnya sejalan dengan prinsip-prinsip HPI
Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah
Badan ini mendukung aktivitas kemanusiaan yang dilaksanakan oleh perhimpunan nasional atas nama kelompok-kelompok rentan dan bertindak sebagai juru bicara dan sebagai wakil Internasional mereka. Federasi mendukung Perhimpunan Nasional dan ICRC dalam usahanya untuk mengembangkan dan menyebarluaskan pengetahuan tentang HPI dan mempromosikan Prinsip-prinsip Dasar Gerakan.
Statuta Gerakan
Statuta Gerakan adalah salah satu dasar yang menentukan struktur dan kewajiban ICRC, Federasi, dan Perhimpunan Nasional. Statuta Gerakan disusun pada tahun 1928. Kemudian direvisi pada tahun 1952 direvisi lagi pada tahun 1986, tepatnya pada Konferensi Internasional yang ke-25 yang dilaksanakan di Jenewa.
Statuta ICRC
ICRC menetapkan statutanya pada tahun 1915. Semenjak itu mereka sudah merevisinya beberapa kali. Khususnya, mereka berefleksi dan mengembangkan pokok-pokok pikiran dari pasal 5 Statuta Gerakan. Untuk lebih persisnya, sebagai tambahan atas apa yang sudah disebutkan di atas, statuta itu menyebutkan bahwa ICRC harus:
> Melindungi dan mempromosikan penghormatan kepada prinsip-prinsip dasar gerakan, demikian juga dengan penyebarluasan pengetahuan HPI yang dapat dipakai dalam konflik bersenjata;
> Mengakui semua Perhimpunan Nasional yang dibentuk berdasarkan persyaratan yang tercantum dalam statuta gerakan;
> Mengemban tugas yang diberikan oleh Konvensi Jenewa dan memastikan bahwa HPI dilaksanakan dangan setia.
> Menyediakan perlindungan dan bantuan, dalam kapasitasanya sebagai penengah netral kepada militer dan korban sipil dari konflik bersenjata.· Mengelola, menjalankan Badan Pusat Pencarian;
> Melaksanakan mandat yang dipercayakan kepadanya oleh Konferensi Internasional.
Statuta Federasi
Statuta Federasi memutuskan tanggung jawab Federasi sebagai berikut:
> Bertindak sebagai badan penghubung dan koordinasi permanen dari Perhimpunan-Perhimpunan Nasional;
> Memberikan bantuan kepada Perhimpunan Nasional yang mungkin memerlukan dan memintanya;
> Mempromosikan pembentukan dan pengembangan Perhimpunan Nasional;
> Mengkoordinasi operasi bantuan yang dilaksanakan oleh Perhimpunan Nasional dalam rangka membantu korban bencana alam dan pengungsi di tempat di mana tidak ada konflik bersenjata.
Statuta Perhimpunan Nasional
Setiap Perhimpunan Nasional memiliki statuta sendiri-sendiri. Walaupun mungkin berbeda satu dengan yang lain, statuta itu harus mencerminkan semangat gerakan dan memperhatikan ketentuan-ketentuan umum dalam statuta gerakan. Harus diperhatikan bahwa seperangkat “model statuta” tersedia untuk digunalan oleh perhimpunan nasional. Tujuan untuk pembuatan model tersebut pada tahun 1952 tidak untuk digunakan sebagai satu-satunya peraturan bagi semua perhimpunan nasional tetapi untuk mewujudkan prinsip-prinsip konvensi dan gerakan, yang merupakan aplikasi universal. Model statuta ini sudah diubah sampai berkali-kali dan pantas untuk menjadi pedoman bagi perhimpunan nasional baru dalam membuat rancangan statutanya sendiri.
Referensi
International Committee of the Red Cross, 1994, Handbook of the International Red Cross and Red Crescent Movement, ICRC, Geneva
International Committee of the Red Cross, 1998, Mengenal Lebih Jauh Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, ICRC, Geneva.
Muin, Umar, 1999, Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
1 Pada saat itu, beberapa negara dimulai dari kerajaan Ottonam (Turki), sudah menggunakan Lambang Bulan Sabit Merah sebagai Lambang perhimpunan nasional.
sumber http://pmi-diy.or.id/sejarah-gerakan/
Hanya Do`a, Mungkin Nyata...!
Gairah ku untuk menulis kata-kata kini kembali bersama iringan lagu DJ yang menawan.
Asyik habis dari pembukaan pameran Jogja Art Fair #2/2009 di Taman Budaya. Uwih…acaranya seru banget karya-karya seninya sangat menawan serta menakjubkan. Mungkin inilah salah satu makna betapa indahnya suatu karya seni. Sampai aku bisa menulis yang akan kulanjutkan dengan sebuah puisi untuk penghibur hati, luapan perasaan yang bersemayam di hati ku.
Malam ini malam ku
Lihat seni lihat dirimu
Dalam hatiku dalam anganku
Ingin jumpa ingin bertemu
Kepada hati kepada kamu
Nantikan aku nantikan kita bertemu
Malam ini malam ku
I love you I miss you
Untuk mu untuk kekasihku
tapi aku tak tahu
siapa wanita yang kurindu
hanya bisa menunggu
bisikan hati pada dirimu
getaran jiwa pertanda tentang kamu
masih menunggu dan menunggu
sampai kamu datang padaku.
atap genting, jogja@2009
Sunday, 5 September 2010
Maulana Habib Anis bin Alwi Al-habsy



Habib Anis lahir di Garut Jawa Barat, Indonesia pada tanggal 5 Mei 1928. Ayah beliau adalah Habib Alwi. Sedangkan ibu beliau adalah syarifah Khadijah. Ketika beliau berumur 9 tahun, keluarga beliau pindah ke Solo. Setelah berpindah-pindah rumah di kota Solo, ayah beliau menetap di kampung Gurawan, Pasar Kliwon Solo.Sejak kecil, Habib Anis dididik oleh ayah sendiri, juga bersekolah di madrasah Ar-Ribathah, yang juga berada di samping sekolahannya. Pada usia 22 tahun, beliau menikahi Syarifah Syifa binti Thaha Assagaf, setahun kemudian lahirlah Habib Ali.
Tepat pada tahun itu juga, beliau menggantikan peran ayah beliau, Habib Alwi yang meninggal di Palembang. Habib Ali bin Alwi Al Habsyi adik beliau menyebut Habib Anis waktu itu seperti “anak muda yang berpakaian tua”.
Habib Anis merintis kemaqamannya sendiri dengan kesabaran dan istiqamah, sehingga besar sampai sekarang. Selain kegiatan di Masjid seperti pembacaan Maulid simthud-Durar dan haul Habib Ali Al-Habsyi setiap bulan Maulud, juga ada khataman Bukhari pada bulan sya’ban, khataman Ar-Ramadhan pada bulan Ramadhan. Sedangkan sehari-hari beliau mengajar di zawiyah pada tengah hari.
Pada waktu muda, Habib Anis adalah pedagang batik, dan memiliki kios di pasar Klewer Solo. Kios tersebut ditunggui Habib Ali adik beliau. Namun ketika kegiatan di masjid Ar-Riyadh semakin banyak, usaha perdagangan batik dihentikan. Habib Anis duduk tekun sebagai ulama.
Dari perkawinan dengan Syarifah Syifa Assagaf, Habib Anis dikaruniai enam putera yaitu Habib Ali, Habib Husein, Habib Ahmad, Habib Alwi, Habib Hasan, dan Habib AbdiLlah. Semua putera beliau tinggal di sekitar Gurawan.
Dalam masyarakat Solo, Habib Anis dikenal bergaul lintas sektoral dan lintas agama. Dan beliau netral dalam dunia politik.
Dalam sehari-hari Habib Anis sangat santun dan berbicara dengan bahasa jawa halus kepada orang jawa, berbicara bahasa sunda tinggi dengan orang sunda, berbahasa indonesia baik dengan orang luar jawa dan sunda, serta berbahasa arab Hadrami kepada sesama Habib.
Penampilan beliau rapi, senyumnya manis menawan, karena beliau memang sumeh (murah senyum) dan memiliki tahi lalat di dagu kanannya. Beberapa kalangan menyebutnya The smilling Habib.
Habib Anis sangat menghormati tamu, bahkan tamu tersebut merupakan doping semangat hidup beliau. Beliau tidak membeda-bedakan apahkah tamu tersebut berpangakat atau tidak, semua dijamunya dengan layak. Semua diperlakukan dengan hormat.
Seorang tukang becak (Pak Zen) 83 tahun yang sering mangkal di Masjid Ar-Riyadh mengatakan, Habib Anis itu ulama yang loman (pemurah, suka memberi). Ibu Nur Aini penjual warung angkringan depan Masjid Ar-Riyadh menuturkan, “Habib Anis itu bagi saya orangnya sangat sabar, santun, ucapannya halus. Dan tidak peranah menyakiti hati orang lain apalagi membuatnya marah”.
Saat ‘Idul Adha Habib Anis membagi-bagikan daging korban secara merata melalui RT sekitar Masjid Ar-Riyadh dan tidak membedakan Muslim atau non Muslim. Kalau dagingnya sisa, baru diberikan ke daerah lainnya.
Jika ada tetangga beliau atau handai taulan yang meninggal atau sakit, Habib Anis tetap berusaha menyempatkan diri berkunjung atau bersilautrahmi. Tukang becak yang mangkal di depan Masjid Wiropaten tempat Habib Anis melaksanakan shalat jum’at selalu mendapatkan uang sedekah dari beliau. Menjelang hari raya Idul Fitri Habib Anis juga sering memberikan sarung secara Cuma-Cuma kepada para tetangga, muslim maupun non muslim. “Beri mereka sarung meskipun saat ini mereka belum masuk islam. Insya Allah suatu saat nanti dia akan teringat dan masuk islam.” Demikian salah satu ucapan Habib Anis yang ditirukan Habib Hasan salah seorang puteranya.
Meskipun Habib Anis bin Alwi bin Ali al Habsyi telah meninggalkan kita, namun kenangan dan penghormatan kepada beliau terus saja mengalir disampaikan oleh para habib atau para muhibbin. Habib Husein Mulachela keponakan Habib Anis mengatakan, pada saat meninggalnya Habib Anis dia dan isterinya tidak mendapatkan tiket pesawat, dan baru keesok harinya datang ke Solo melalui bandara Adi Sumarmo Yogyakarta. Selama semalam menunggu, mereka seperti mencium bau minyak wangi Habib Anis di kamarnya. “Aroma itu saya kenal betul karena Habib Anis membuat minyak wangi sendiri, sehingga aromanya khas.”
Dalam salah satu tausiyah, Habib Jindan mengatakan, “Seperti saat ini kita sedang mengenang seorang manusia yang sangat dimuliakan, yaitu Nabi Muhammad SAW. Kita juga mengenang orang shalih yang telah meningalkan kita pada tanggal 6 Nopember 2006 yaitu guru kita Habib Anis bin alwi bin Ali Al-Habsyi.
Ketika kita hadir pada saat pemakaman Habib Anis, jenazah yang diangkat tampak seperti pengantin yang sedang diarak ke pelaminannya yang baru. Bagi Habib Anis, kita melihat semasa hidup berjuang untuk berdakwah di masjid Ar-Riyadh dan kini setelah meninggal menempati Riyadhul Janah, taman-taman surga. Ketika takziyah pada pemakaman Habib Anis kita seolah-olah mengarak pengantin menuju Riyadhul Jannah, taman-taman surga Allah. Inilah tempat yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang beriman, bertaqwa dan shalih. Kita sekarang seperti para sahabat Habib Ali Al-habsyi, penggubah maulid Simtuh-durar yang mengatakan bahwa, keteka mereka hidup di dunia, mereka seolah-olah tidak merasakan hidup di dunia tetapi hidup di surga. Sebab setiap hari diceritakan tentang akhirat, tentang ketentraman bathin di surga. Dan mereka baru menyadari baha mereka hidup di dunia yang penuh cobaan.
Kita selama ini hidup bersama Habib Anis, bertemu dalam majlis maulid, berjumpa dalam kesempatan rauhah dan berbagai kesempatan lainnya. Dalam berbagai kesempatan itu kita mendengar penuturan yang lembut dan menentramkan, sehingga sepertinya kita di surga. Dan kita merasakan bahwa kita hidup di dunia yang fana ketika menyaksikan bahwa beliau meninggal dunia. Namun begitu, kenangan beliau tetap terbayang di mata kita, kecintaan beliau tetap menyelimuti kita.
Habib Abdullah Al-hadad ketika menyaksikan kepergian para guru beliau, mengatakan, “Kami kehilangan kebaikan para guru kami ketika mereka meninggal dunia. Segala kegembiraan kami telah lenyap, tempat yang biasa mereka duduki telah kosong, Allah telah mengambil milik-Nya Kami sedih dan kami menangis atas kepergian mereka. Ah…andai kematian hanya menimpa orang-orang yang jahat, dan orang-orang yang baik dibiarkan hidup oleh Allah. Aku akan tetap menangisi mereka selama aku hidup dan aku rindu kepada mereka. Aku akan selalu kasmaran untuk menatap wajah mereka. Aku akan megupayakan hidupku semampukun untuk selalu mengikuti jalan hidup para guruku, meneladani salafushalihin, menempuh jalan leluhurku.”
Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assagaf yang berada di Jeddah bercerita, “Ayahku Habib Ahmad bin AbduRrahman berkata kepadaku, ‘ya…Abdulkadir engkau lihat aku, ketahuilah jangan engkau menyimpang dari jalan orang tuamu’”. Ketika Habib Ahmad bin AbduRrahman meninggal dunia, Habib AbdulKadir tetap menempuh jalan orang tuanya dan dia tidak menyipang sedikitpun jalan yang telah ditempuh oleh Habib Ahmad bin AbduRrahman.
Begitu juga Almarhum Habib Anis, tidak sedikitpun menyimpang dari yang ditempuh oleh ayah beliau, Habib Alwi. Hal serupa terjadi pada Habib Alwi , yang tetap menapaki jalan yang ditempuh oleh ayah beliau Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi Dan Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi sama juga menempuh jalan orang tua, guru dan teladan beliau hingga sampai Nabi Muhammad SAW”……
Sedangkan Habib Novel bin Muhammad Alaydrus, murid senior sekaligus cucu menantu Habib Anis mengatakan, maqam tinggi yang dimiliki Habib Anis didapatkan bukan karena berandai-andai atau duduk – duduk saja. Semua itu beliau peroleh setelah bertahun-tahun menanamkan cinta kepada Allah SWT, para shalihin dan kepada kaum muslimin umumnya. Semoga beliau dalam kuburnya melihat kehadiran kita di majlis ini, bahwa kita sebagai anak didiknya meneruskan perjuangan dakwahnya. Dalam Al-Qur’an disebutkan, ‘Dan sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang’. Artinya kepada orang-orang yang beriman dan beramal salih Allah menanamkan kepada makhluk-makhluk rasa kasih sayang kepadanya, cinta kepadanya, sebagaimana disabdakan RasuluLlah SAW dalam hadits yang diriwayatkan imam Bukhari, “Jika Allah mencintai hambanya maka Allah akan memanggil Jibril, menyampaikan bahwa Allah mencintai si Fulan. Mulai saat itu Jibril akan mencintai Fulan, sampai kapanpun. Jibril kemudian memanggil ahli langit untuk menyaksikan bahwa Allah mencintai Fulan. Maka ia memerintahkan mereka semua utuk eneicintai Fulan. Dengan begitu para penghuni langit mencintai Fulan. Setelah itu Allah letakkan di atas bumi ini rasa cinta untuk menerima orang yang dicintai Allah tersebut, dapat dekat dengan orang itu.” Dan insya Allah Habib Anis termasuk diantara orang-orang tersebut.”
Ada empat hal yang selalu disampaikan oleh Habib Anis kepada jama’ah yang hadir di majlis beliau, “Pertama, Kalau engkau ingin mengetahui diriku, lihatlah rumahku dan masjidku. Masjid ini tempat aku beribadah mengabdi kepada Allah. Kedua, zawiyah, di situlah aku menggembleng akhlak jama’ah sesuai akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketiga, kusediakan buku-buku lengkap di perpustakaan, tempat untuk menuntut ilmu. Dan keempat, aku bangun bangunan megah. Di situ ada pertokoan, karena setiap muslim hendaknya bekerja. Hendaklah ia berusaha untuk mengembangkan dakwah Nabi Muhammad SAW”…….
sumber dari:
http://ahlulkisa.com/manaqib-al-maghfurlah-al-habib-anis-bin-alwi-al-habsy.html
Tuesday, 31 August 2010
Monday, 5 July 2010
Malam ini kembali ku tuliskan kisah2 klasik yg menewan

Malam ini kembali ku tuliskan kisah2 klasik yg menewan
Sekolah taman ilmu yg mengagumkan
Banyak pelajaran yg dapat diambil hikmah dari kejadian setiap episode kehidupan
Disini ku temukan cinta
Ku bahagia karenanya
Hanya satu yang ku minta
Bukan harta bukan tahta
Hanya cinta
Just cinta darinya
Yang membuat ku terluka
Semoga terkenang selamanya
kisah kelasik ala duabelas ipa dua (chapter#1)
kisah kelasik ala duabelas ipa dua (chapter#1)
sumpah gue kangen banget ama kalian. beberapa hari gak kumpul`` bareng gak kayak dulu waktu kita jalanin bersama hari`` yang menegangken di dalam kelas. banyak warna yang telah kita goresken dalam papan ruang dan waktu di a2 ini, entah membentuk lukisan yang menawan sebagaimana karyanya si rumi sang pelukis "sandal" eh "handal"maksud gue, hehee... atau membentuk mozaik, bahkan kolage (baca:kolase), jangan jangan membentuk lukisan ala chairul anwar, eh "bukannye chairul anwar tu sastrawan ye" iya nding sorry cui salah ngetik maklum lagi kere duwit nih so sombong dikit gak papa dong...okok..ok.kita lanjutin ceritanya, jadi gini persamaan kuadrat yang melalui dua titik dalam kurva pada sumbuX dan sumbuY..."lho...lhoh kog jadi mbahas matematika gini sih", "mentang mentang jago matematika terus belagu, yaa... geje banget gak sih.."". ooppsst...sorry gue ngelantur lagi. jadi banyak betaburan cerita yang terjadi selama ini.
gue beruntung banget punya temen-temen yang gokil abbis ala dua belas ipa dua (yg ngoresken warna" dalam idup gue), gue gak nyangka kalao kita (baca:loe semua dan gue) bakalan ketemu bareng dan berpisah sendiri" hahaaa...pokoke joz lah, berteman ama loe pade.
ketika pelajaran pak sus, uwidih canda tawa yang dilontarken dari mulit pak sus amat sangat membekas cui...apalagi rumus" canggih beliau, kalo dibukuken jagi kayak apa yo...? catatan super lengkap...ampek menghabisken beberapa buku tulis sendiri, ampe gue aja satu halaman masih gue bagi menjadi dua...hahhaaa, sempet waktu itu gue ketauan ama paksus bahwa halaman bukunya gue bagi dua..., di ece abis abisan , tapi gag papa that is great,(walah sok inggris). oya ngomong-ngomong soal inggris, ada kisahnya sendiri, apalagi waktu pelajaran bahasa inggris, inget gak kawan? waktu pelajaran dikelas oleh pak onethousand, suasana dikelas cuma nyenyet sadis coma bisanya yes sir...no sir...ehm...yes no yes yes...whaaahaa...hooh...lol...L0L...cuma gitu doanng,. gue punya something buat pak onethousand...pengalaman yang membekas di kepala gue bahkan di hati gue..., pak please dech...gue waktu itu kan udah ijin ama sekolah buat ikut usm itb, ngapain di catet alpa cuma gara-gara gue gag lapor ke kamu.? ampe waktu itu loe ngancem gue untuk gag boleh ikut ujian praktek,,"Haaa apa gag boleh ikut ujian praktek" ya iya...gag boleh...dia ngancem kayag gitu, perasaan gue waktu itu nangis cui...rasa"nya gue pengen nangis banget...dan gue waktu itu sempet ngeluarin air mata, masak gara" itu doang gue gag boleh ikut ujian praktek bahasa inggris..? wahwahaah...berarti usaha gue selama tiga tahun bakalan sia-sia dong...yang lain pada lulus yang gag lulus cuma gue....apapa...apa....sial bangen gag sih...A##^*g (baca:anjing)
awas lho...loe telah menyiksa batin gue selama beberapa hari...loe telah menzolimi hati gue, sakit asanya cui...waktu itu...sampai" males banget gue belajar bahasa inggris, sehari sebelum ujian nasional bahasa inggris gue gag buka buku blas, tak tinggal tidur cui...sumpah gue jadi illfill banget waktu itu...malam itu pun gue ngimpi cui..nngimpinya indah buanget..nget,...ngeegt...pokoknya indah bangaet...gue dapat sepatu emas, sepatu diddalam sepatu yang gue pake,sepatu gue yang gue pake kan tiba rusak sobeklah, terus gue mbatin dalam hati gue,...ah..gag papa toh nanti gue bisa njahitnya, setelah gue liat-liat lhoh kok jadi tambah lebar sobeknya, gue masih tenang ah...nanti tak jahit, nanti di jahit aja...! setelah gue liat liat lagi lhoh...ada sepatu dalam sepatu...uwidih...sepatunya cantik cui...bagus banget...ada lapisan kayak keemas-emasan gitu, gag ada deh sepatu yang lebih bagus dari itu di dunia ini, apalagi disamaken ama sepatu kaca wes...kalah jauh tu sepatu kaca, seketika itu gue (subhanallah: maha suci Engkau ya..Allah).lhoh..lhoh...oke kok jadi nyeritain pengalaman gue sih.,,, khan disini gue mau cerita...soorrry yooo...tidak kalah serunya waktu pelajaran om dono (baca: ndoro dono) uwidih pasti seru tuh celotehan-celotehan om don, ama anak". pasti ada aja kata' yang keluar dari bibir om dono, yang bikin gue ama anak' pada tertawa...
waktu pelajaran pak rohadi(tohoh spiritualis) termasuk guru favorit gue nih guru, gue suka ngedengerin cerita" beliau, gue kagum, gue ama anak" rasanya tu hormat banget lah pokok e. cerita-cerita beliau tu bener semua ngandung nilai luhur yang amat sangat tinggi dan nilai moral buat kita.
ada warna" sendiri dari temen" anak duabelas ipa dua ni..
mulai dari sangkapten sang komandan, Siap ndan...siap...uwidih...,dia sering di panggil ruben, ruben ini masih diraguken apakah dia itu cantik atau tampan/?, yang selalu di gosipken ama om dono, pak saeno, ama sapa lagi ya...?? oya ama pak onethousand juga',...
yang laen oyaa...anton, ini kebalikan nya ama ruben..., dia tu sulit banget ngetunjukin kejantananya, mekipun dia soerang laki-laki tulen tapi tampaknya kelihatan maco-an ruben dari pada anton.
yang tak kalah serunya cui...Uund, panggilan dari Untung Riantoko, uwidih...dari namanya aja udah untung wah pasti untung terus tu anak, semoga yang nulis ini juga untung...hehee, Uund ini teman yg unik menurutku, sekaligus sahabat yang baik buanget..., dari raut wajahnya aja udah bikin seneng, apalagi canda tawanya celotehan, dan guyonannya pasti bikin orang ngakak deh,...pokoknya lucu, imut-imut gitu...ya gak cui..., oya si uund ini digosipkan, ehh..bukan gosip lagi nding...tapi dipastikan jalan ama mbak As tree..., "maksud loe pacaran", iya pacaran mereka tu pacaran, kalo gue sih pacaran setiap hari bahkan setiap pagi, pacaran(pagi-pagi baca koran) heheee..., secara gitu lhoh.. guekan perlu ngikutin berita, biar uptodate,hahaaa..
oya ada lagi seorang teman, yang belakangan mulai ketahuaan sifat aslinya, ketika Pak Rohadi membaca tanda tangan semua siswa ipa dua tentunya,...dia ini bernama Yaya Perbriantoro, iya...yayan, yang sering dipanggil yani..., yami,...ato yuyun..., ya2n,. mau tahu hasil bacaan dari pak rohadi, menurut beliau ya2n, ini mempunyai sifat playboy gitu..., cielllah...pleyboiii, untung bukan leftboi, kalo leftboy mah...sabun mandi, ya gak cui..., ya memenag benar ini terbukti dengan sepak terjangnya selama ini, apa lagi ini banyak bukti yang menunjukken dia itu plaeboiii, banyak foto2 fulgarnya yang terekan kamerra, ciellah fulgar, bahasanya tu lho, cui...untuk para wanita perlu pasang siaga#3 ketika berhadapan dengan makhluk yang satu ini, awas buas, dan jaga keperawanan kalian,...hehehee
yang tak kalah serunya kisah dari si bay..., nama lengkap bayu ajipurnomo, teman sebagnku gue, dia ini teman unik menurut gue, kenapa unik?, ya...,karena jawabanya, heheee, ketika gue kebelet eek, jelas dong kalo kebeletkan musti ke wc, masak kebelet musi ke belakang, kebelakang mana cui..., belakang klaz, masak eek, di belakang kelas, maluuu, dong...cui...ya jadi begini, gue kan kebelet, dan gue izin ke wc, buang hajat lah...setelah gue selesai gue masuk kelaz lagi, lha setelah itu si bay, ni tiba2 merasa kebelet juga, kebelt eek,...
melankoliiooO
Chapter#1 melankoliiooO
Malam sunyi malam sepi, di ujung pertengahannya tersingkap misteri yang bertegangan tinggi. Seorang anak manusia masih berdiri di pelabuhan tua kota mati berabad tahun lamanya. Bocah tanpa kepala menghampirinya menanyakan dimana kepala yang dulu pernah bertopang di atas tubuh bocah itu. Kaget dan tersontak pemuda itu melihatnya, dia lari terkencing-kencing menuju pangkalan perahu yang mulai menepi pulang dari melaut, disana ia betemu dengan seorang nelayan dan menceritakan kejadian yang barusan dialaminya. Nelayan itu kemudian mengajaknya pulang kerumahnya dan menceritakan semua tentang misteri di pelabuhan ini. Pelabuhan tua kota mati adalah bekas pelabuhan masa penjajahan yang dulu pernah menjadi pusat keramaiaan kota ini, kini menjadi tempat sepi yang menyisakan misteri.
Pernah ada bocah yang di babat kepalanya oleh kompeni, dan kepalanya dibuang tenggelam di dasar laut.
Pagi menjelang dengan kamera yang dikalungkan pemuda itu menyusuri sepanjang pelabuhan dan mulai mencari objek yang bagus untuk gambar yang dijepretnya. Ia sejenak teringat wanita, teman sekolahnya dulu?, yang seketika itu terngiang pesan gurunya bahwa “kamu musti hati-hai dengan yang namanya wanita, kalo bisa melewati cobaan yang namanya wanita dengan baik yaa…berakhir syurga, kalo tergiur dan terlenakan yaa…neraka, dan yang musti dihati-hati betul, wanita itu adalah senjata Iblis untuk menggoda para kaum laki-laki yang ingin hidupnya bahagia. Ia dijadikan oleh iblis-iblis itu sebagai busur panah.”
******
....................................................................................................................................................................Entri-entri tak berguna
Sunday, 27 December 2009
Berita Kepada Kawan
Berita Kepada Kawan
oleh: Agung Prastowo
Siang yang murung menyembunyikan cerahnya, selimut kelam awan hitam datang di wilayahku. Tak disangka hari-hari terasa begitu cepatnya menelanjangi diri, meraih mimpi. Akan tetapi semua itu adalah sebuah perjalanan dimana aku harus jalani dengan pasti. Awal sebuah kepemimpinan dalam suatu organisasi dimana mimpi-mimpiku ada didalamnya, entah masih tersisa atau tidak tapi yang jelas kepastian itu telah datang dan semua mengetahuinya siapa, apa, dan bagaimana aku ini sebenarnya. Organisasi dimana aku sulit membedakan antara pemenang dan pecundang, aku heran ketika awal kepengurusanku di sini, aku yakin itu akan kujalani dengan susunan setrategi yang begitu rapinya. Sampai-sampai seiring perjalanan waktu, yang menampakkan kekejamannya kepada ku, semua itu, bagai karang yang diterjang ganasnya ombak dilautan. Aku kedinginan ditengah bebatuan, tepi laut yang menampakan kesendiriannya, aku.
Suatu saat dalam menjalani kisah itu, aku merasa dihimpit, batu karang yang besar, dihantam, ganasnya gelombang, disambar petir berulang-ulang, dan hujan datang di tepi pantai yang mencekam. Aku sendirian menghadapi semua itu. Aku bimbang dalam kesendirian, aku butuh kawan. Satu, dua, tiga kawan tak juga ku temui sampai-sampai aku tertelan dalam pencarian kawan tuk jadi teman, seolah patih dalam membangun dan memperjuangkan organisasi ini. Semua yang kulakukan memiliki resiko yang besar, dan keputusan itu ada pada kepalan tanganku. Disamping aku memegang palu keputusan, aku juga memmbawa neraca keadilan, palu sebelah kanan, neraca keadilan sebelah kiri. Akan tetapi, sungguh disayangkan, aku tuli akan semua itu. Aku tak dapat mendenar suara-suara hati yang berhari-hari telah menjadi teman sejati bagi ku, yang ada hanyalah keinginan untuk segera menyeleseikan urusan-urusan dalam kepemimpinanku ini. Perasaan itu yang mendorongku untuk egois, sikap buruk lainnya, serta ambisi untuk segera,segera, dan segera melewatinya sendirian, tanpa kawan.
Akankah semua itu akan berulang?. Aku pikir cukup aku saja yang merasakan, karena itu semua asam bahkan pahit. Aku begitu sulit memutuskan, sampai aku mengorbankan progam kerja yang lama kelamaan adalah beban. Aku tak habis pikir, progam kerja yang disusun dengan matang, tapi berubah menjadi beban yang mencekik sampai ketulang, sampai aku harus mengorbankannya untuk kebijakan yang diputuskan. Ternyata kebijakan itu pun tak seimbang, ketika ku takar dengan neraca yang ku tenteng ditangan kiriku.
Sungguh benar, benar, benar, sungguh, rencana sekenario Sang Pencipta sungguh-sungguh mempesona pada akhirnya, Allah menujukkan semua itu tepat setelah pergantian kepengurusan dalam organisasi ini. Subhanallah, Maha Suci Allah yang mengatur segala urusan hambanya.
Masa lalu biarlah berlalu, sekarang biarlah, aku usahakan semaksimal mungkin tuk kebahagiaan masa datang, masa datang jangan mengulangi masa lalu yang kelam, usahakan menjadi pribadi yang menawan. Teringat ketika waktu itu, aku menganalogikan aku sedang berjalan dipantai yang mencekam berjalan di atas batu karang yang tajam, berjalan sendirian, dan akhirnya sekarang aku memiliki kawan. Sungguh kalau dipikir-pikir semua itu terlambat, mengapa enggag waktu itu saja, waktu benar, benar aku membutuhkan kawan tuk membantu perjuangan panjang yang beresiko besar, dan suram,( kalo dilihat dari luar, padahal didalam terang benderang), sahabat, itu datang di akhir perjalanan. Penyesalan itu di jawab langsung oleh Allah dengan menujukkan hasil masnisnya perjuangan waktu itu. Semua oleh Allah diatur dan indah pada akhirnya. Aku sadar, sadar, sadar, dan benar-benar sadar, akan kesalahan aku waktu itu, aku salah, aku salah, aku salah, dalam mengambil keputusan dan akhirnya aku menyesal. Apa yang telah aku lakukan selama ini, ternyata mengecewakanmu kawan. Penyesalan diakhir, aku minta maaf pada kawan-kawanku di organisasi ini, aku telah membuat kalian terluka. Mengecewakan kawanku semua. Semoga kawaku sekalian dapat memaafkan aku ini. Sejalan dengan kejadian ini, Allah langsung membukakan hijab yang ada dikedua mata ku, aku langsung mengetahui dan melihat dengan jelas betapa membaranya semangat kalian, kawanku semua tuk memajukan organisasi ini, khususnya dakwah yang menjadi cita-cita perjuangan kalian. Sungguh kawan, aku melihat itu ada pada diri kalian. Jaga dan tetap berpegangan tangan, bergandengan, kawan, pada tali ukuwah yang membentang panjang. Ukuwah islamiah, jalin dan semangat membaramu kawan, wujudkan dan jadikan sejarah baru untuk perjuangan dakwah, organisasi ini.
Akhirnya kesepian yang mencekam di pinggir pantai yang suram itu, sekarang berubah menjadi keramaian yang banyak kawan, cerah setelah gerimis datang, dihiasi pelangi yang tersenyum menyambut kebahagiaan wajah-wajah kawanku, dulu suram kini telah tenggelam bersama surya dibarat, yang mulai menelan kesepian. Malam pun datang kawan, waktunya tuk memulihkan energi kehidupan, untuk perjuangan panjang dan mungkin lebih mencekam dari malam-malam sebelumnya. Akan tetapi, malam ini beda kawan, malam ini adalah malam panjang, dimana titik tolak perjuangan akan segera datang, dengan semangat yang membara, dan ketangguhan iman. Karena Allah bersama kita kawan. Yakinlah tanamkan pada jiwa kalian yang terdalam, akan kebenaran ini.
Aku berpesan pada kawanku semua, ketika kalian lelah dalam perjuangan ini, bacalah tulisan ini. Insyaallah, lelah kalian akan berubah menjadi senyuman panjang. Yakinlah dan percayalah. Pertolongan Allah pasti datang, pasti.
Lorong Bawah Langit@SemutAnkrang
Sunday, 29 November 2009
Sebuah Mozaik Perjalanan Cinta dan Pengabdian
antara aku dan dirimu,
terkadng aku ingin meluapkan emosi tentang cinta
kepada dirimu yang mengalihkan pandangan cinta kepadanya
aku tahu aku berada disisi maya hidupmu
setiapkali aku selalu memperhatikanmu
menyelidiki, bak detektif Conan, keseseuain diriku dengan dirimu
senyummu, tatapan matamu, bicaramu, tawamu, tingkahlakumu, dan yang terakhir kali ku perhatikan adalah budi pekertimu
Oh... alanhgkah takjubnya aku
terkesima, menyentuh relung hati dan tergetarkan olehmu
Sebelah hatiku berbisik "Inikah wanita yang kau cari?"
Sebelah yang lain bernada lembut "Inilah kekasih hatimu",
dan bagian yang lainnya mengangguk seraya menyetujui bisikan hati yang pertama dan kedua. "Dia sanyat menawan".
Semakin kukenal dia, semakin menawan
semakin kutahu siapa kekasih hati yang selama ini ku cari.
Ya...dirimulah, dikau yang kucari
untuk pendamping hidupku, bukan hanya sekedar teman, sahabat, pacar, kekasih, tapi lebih dari itu.
Ya...dirimulah, dirimu adalah diriku. Kita akan menyatu dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa, dari cinta ke cinta, kita satukan......









